Header Ads

Soal Kopi, Indonesia Masih Kalah dengan Vietnam



BANTENPERSPEKTIF.COM, NASIONAL --- Meskipun ada peningkatan nilai ekspor kopi, namun untuk urusan produksi kopi Indonesia masih kalah dengan Vietnam. Padahal potensi biji kopi di tanah air sangat besar dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan rilis dari Kementerian Perindustrian RI, industri pengolahan kopi menunjukkan kontribusi yang semakin meningkat bagi ekspor Indonesia. Pada tahun 2016, sektor ini mencatat angka ekspor USD 427,89 juta, atau meningkat sekitar 19% dari tahun 2015. 

“Neraca perdagangan produk kopi olahan kita surplus USD 349,18 juta. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor utama yaitu ASEAN, RRT, dan Uni Emirat Arab,” jelas Dirjen Industri Kecil Menengah Gati Wibawaningsih pada acara puncak Perayaan Hari Kopi Internasional, Minggu (1/10).
  
Potensi Pengembangan industri kopi olahan dan kopi spesial di dalam negeri masih sangat baik, mengingat konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata masih sebesar 1,1 kg perkapita/tahun. Jumlah itu jauh dibawah negara-negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg,  Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 Kg dan Finlandia 11,4 Kg perkapita/tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Industri Agro Panggah Susanto memaparkan, kebijakan pengembangan industri pengolahan kopi ditujukan untuk terus mengembangkan potensi pasar di dalam negeri. 

Beberapa program yang dikembangkan yaitu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia seperti barista, roaster, penguji cita rasa (cupper), peningkatan nilai tambah biji kopi di dalam negeri, dan peningkatan mutu kopi olahan terutama kopi sangrai (roasted bean) melalui penguasaan teknologi roasting. “Diharapkan di masa depan, Indonesia menjadi eksportir utama roasted bean di Asia dan dunia,” tutur Panggah

Indonesia adalah negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia dengan produksi rata-rata sebesar 639 ribu ton per tahun atau sekitar 8 % dari produksi kopi dunia. 

Komposisi produksi kopi Indonesia adalah 72,84% kopi jenis robusta dan 27,16% kopi jenis arabika. “Kami optimistis bahwa pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia juga akan meningkatkan kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri secara signifikan,” paparnya.

Perayaan Hari Kopi Internasional merupakan kolaborasi antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pertanian, Badan Ekonomi Kreatif, dan Pemerintah Provinsi Lampung. 

Kementerian Perindustrian juga mengundang beberapa organisasi kopi untuk bertandang dalam acara tersebut. Seperti, Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Asosiasi Ekportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), dan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI). 

Beragam acara ditampilkan mulai dari Workshop dan Pameran, Tur ke Perkebunan Kopi PT Nestle, Pertemuan Master Trainer, Pemilihan Duta Kopi, hingga acara minum kopi bersama. Kejuaraan Barista tingkat Nasional untuk kategori cup taste, manual brewing dan latte art juga digelar untuk mengapresiasi kemahiran para pecinta kopi. 

Selain dirayakan di Provinsi Lampung, perayaan Hari Kopi Internasional juga diadakan di tiga kota yaitu Batam, Pinrang, Badung dan Jakarta. Khusus di Jakarta, acara akan digelar dalam kegiatan Car Free Day. 

Di sana akan ada gerai kopi yang menawarkan petualangan mencicipi berbagai macam jenis kopi, sekaligus informasi kepada para pengunjung untuk akses permodalan kedai kopi. “Perhatian dan dukungan seluruh pihak terkait kami harapkan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh pelaku rantai nilai perkopian Indonesia mulai dari petani, industri sampai penyedia jasa retail kopi dan konsumen,” tutup Gati.

Sumber: Biro Humas Kemenperin RI
Editor : Karnoto




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.