Header Ads

Bulu Unggas Jadi Gantungan Hidup Desa Lawatan


BISNISKITA.CO.IN, TEGAL - Jika bulu unggas di daerah Anda mungkin tidak berarti, lain halnya bagi warga di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ribuan warga di desa ini menggantungkan hidup dari bulu unggas.

Dari bulu unggas tersebut mereka olah menjadi shuttlecock untuk olahraga bulu tangkis. Hampir seluruh warga di desa ini menjadi pengrajin shuttlecock. Oleh Pemerintah Kabupaten Tegal, desa ini dijadikan Kawasan Wisata Industri.

Desa Lawatan memiliki jumlah penduduk kurang lebih 9.700 jiwa atau 1.840 kepala keluarga.
Menyulap bulu unggas menjadi barang yang bernilai ekonomis dilakukan warga desa ini secara turun temurun hingga saat ini. Dalam sehari, mereka  sanggup memproduksi hingga 12.000 buah kok

Menurut informasinya, di desa ini terdapat sejumlah perusahaan yang memproduksi shuttlecock. Jumlah perusahaan besar yang memproduksi shuttlecock ada sekitar 15, untuk tingkat menengah ada sekitar 50 rumah produksi, sedangkan untuk kelas kecil mencapai 50 rumah produksi.

Klasifikasi perusahaan tersebut didasarkan pada jumlah produksinya per bulan. Apabila pengusaha besar dalam satu bulan bisa menyelesaikan hingga 8.000 slop per bulan maka masuk kategori perusahaan besar, sedangkan untuk kelas menengah rata-rata mampu memproduksi shuttlecock antara 1.500 slop sampai 2.500 slop per bulan.

Dan pengusaha kecil hanya mampu memproduksi sekitar 500 slop per bulan. Shuttlecock yang mereka buat dijual ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa kota - kota besar lainnya. (DBS/KNT)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.