Header Ads

Upaya Majalah Hadila "Selamatkan" Pasar Ummi



Usia sebuah brand, apapun bentuk brand tersebut pasti akan mengalami product life cycle, mulai dari introduction, growth, mature dan decline.

Sebagian keluarga Muslim Indonesia mungkin sudah merasakan kehilangan sebuah majalah dengan konten parenting Islami. Majalah itu adalah Ummi. Menurut informasi, Majalah Ummi terpaksa berhenti terbit seiring dengan serangan media online.

Tidak ada yang aneh sebetulnya dengan menghilangnya Majalah Ummi jika dilihat dari konteks produk. Apalagi Majalah Ummi yang mengambil pasar ceruk, yaitu pasar Muslim. Meski pasar Muslim sekarang potensial tetapi mereka umumnya middle class muslim.

Dan salah satu karakter kelas menengah adalah memiliki banyak pertimbangan ketika membuat keputusan untuk membeli suatu produk, termasuk produk majalah cetak. Jika dilihat dari sisi brand, sebenarnya Majalah Ummi telah memiliki brand yang cukup kuat dan positioning yang tepat.

Bahkan kalau saya tidak salah berasumsi, Majalah Ummi sudah mulai menggeser segementasi dan target pasar ke tengah. Hal ini bisa dilihat dengan beberapa isi majalah yang bersifat universal dengan rubrik yang bisa dinikmati orang umum.

Mungkin pihak manajemen ingin memperluas pasar pembaca ke komunitas tengah sehingga memiliki daya jangakau lebih luas. Dari sisi perubahan psikologis masyarakat langkah ini sebenarnya tepat, tapi mungkin butuh nafas panjang karena tidak mudah menggaet mereka.

Jika dilihat customernya, Majalah Ummi juga memiliki customer loyal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Hanya saja dalam pemikiran saya, Majalah Ummi kurang mempersiapkan antisipasi terhadap perubahan dunia teknologi informasi.

Padahal perubahan teknologi ini memengaruhi psikologis kelas menengah yang notebene pasar yang selama ini dimiliki Majalah Ummi. Entah kapan persisnya berhenti terbit, tapi saya berpandangan bahwa Majalah Ummi masih punya nafas untuk hidup kembali.

Tentunya dengan beberapa catatan dengan melakukan Re-Branding, yaitu dengan melanjutkan pergeseran ke pasar tengah seperti yang pernah dilakukan. Program itu  sebenarnya bisa dilanjutkan dengan terlebih dahulu mengkonfirmasi customer loyal yang selama ini masih bertahan melalui riset atau semacam kuisoner.

Sebab merekalah yang setia dengan Majalah Ummi sehingga perlu menjaga perasaan mereka. Jangan sampai ingin mengambil pasar tengah atau baru, tetapi customer loyal masih keberatan. Hal ini pernah terjadi pada produk Coca Cola beberapa tahun silam saat melakukan perubahan rasa karena merasa tersaingi dengan kehadiran Fanta.

Ketika itu, pihak Coca menyimpulkan kenapa penjualan mereka turun setelah adanya Fanta. Mereka menyimpulkan dengan riset mereka bahwa penyebabnya adalah rasa manis yang kalah dengan Fanta. Kesimpulan ini lalu menjadi referensi Coca Cola untuk mengubah rasa.

Tapi ternyata, perubahan rasa itu justru membuat kecewa pelanggan loyal Coca Cola dan Coca Cola semakin terpuruk penjualannya. Para pelanggan loyal Coca Cola di Amerika Serikat sudah menjadikan Coca Cola sebagai identitas food masyarakat Amerika Serikat.

Jadi sensitiftas mereka terhadap Coca Cala  tinggi sehingga perubahan yang dilakukan Coca Cola akan mereka tanggapi dengan serius. Customer loyal Coca Cola ketika itu marah dengan perubahan rasa pada produk minuman tersebut.

Upaya Halidah "Selamatkan" Pasar Ummi
Beberapa hari lalu saya mendapatkan majalah Halida, majalah keluarga yang terbit sebulan sekali dengan jumlah halaman kurang lebih 60 halaman. Majalah Halida terbit perdana pada November 2006.

Jadi, sebetulnya historinya majalah ini terbit ketika Majalah Ummi masih terbit juga. Hanya saja mungkin jangkaun pasarnya belum seluas Majalah Ummi. Dan kini, Halida tampil dan sebenarnya bisa menjadi substitusi atau pengganti Majalah Ummi sekaligus menyelamatkan pasar Ummi.

Dilihat dari brand dan ditegaskan pada taglinenya yaitu Sahabat Keluarga Menuju Takwa, jelas bahwa Halida memiliki irisan pasar dengan Majalah Ummi. Majalah ini secara umum juga sama dengan Ummi dengan pasar segmentatif.

Majalah Halida berbasis di Kota Solo sedangkan Ummi di Jakarta. Dan menurut saya, peluang untuk menyelamatkan pasar yang selama ini dimiliki Ummi cukup terbuka. Saya katakan "menyelamatkan" bukan mengambil karena ruh kedua majalah ini sama, yaitu ingin menyajikan informasi atau bacaan tentang keluarga yang Islami tetapi juga moderat.

Oleh karena punya pasar yang sama maka secara umum tantangan yang akan dihadapi sama dengan Ummi, yaitu bagaimana merawat customer atau pembaca loyal tanpa mengabaikan pasar baru. Main di dua kaki ini memang tak mudah, apalagi trend pasar sekarang ini cenderung segmentatif.

Saya ambil contoh bisnis yang terkait media. Coba Anda lihat media televisi, mereka masing - masing membidik pasar segmentatif. MetroTV, TVOne, INews adalah tv berita, sedangkan Indosiar sekarang memposisikan sebagai TV hiburan musik dengan basis dangdut.

Dan statisun televisi lainya pun sama membidik pasar secara segementatif karena secara alamiah pasar sekarang segmentatif.  Dan menurut saya, Halidah pun harus membaca selera pasar yang segmentatif tersebut.

Kalau memang memposisikan sebagai majalah Islam moderat maka konsistenslah dengan brand itu. Sebab jika tidak customer akan bingung menempatkan Halida, apakah majalah keluarga umum atau majalah keluarga Islami.

Ini penting karena terkait dengan pemasang iklan nantinya yang merupakan menjadi salah satu sumber pendapatan media. Karena pemasang iklan pasti juga akan bekerjasama dengan media yang memiliki pasar jelas dan segmentatif.

Strategi Pemasukan Media
Di tengah kondisi perubahan teknologi yang super cepat dan tak terduga oleh sebagian besar kita maka pengelola media dituntut mampu memaca dan kreatif. Kreativitas ini salah satunya adalah soal pemasukan.

Saya ingin cerita pengalaman saat bekerja di sebuah majalah ekonomi di Jakarta. Majalah ini khusus mengulas persoalan ekonomi dan saya melihat sumber pendapatan dari iklan sangat sedikit. Setiap kali terbit hanya lima lembar iklan terpampang.

Besarnya per iklan kurang lebih antara Rp 10 juta sampai Rp 20 juta, maklum yang masang iklan adalah BUMN jadi lebih kepada rasa ga enak.  Tapi majalah ini masih bertahan dengan usia kurang lebih 25 tahun, kendati kembang kempis tetapi mereka bisa survival.

Saya mencoba menelaah dan mengamati dan rupanya pihak manajemen mengakali pemasukan bukan hanya dari iklan, karena jelas tidak akan mampu menutupi biaya operasional dengan karyawa kurang lebih 3 orang, biaya sewa ruko, biaya cetak dan operasional lainnya.

Untuk antisipasi kekurangan itu mereka membuat sumber pemasukan baru yaitu melalui event awards. Sebulan dua kali mereka membuat award, mulai dari award customer service terbaik, awards public relation terbaik, award sosmed terbaik dan awards - awards lainnya.

Dalam program pemberian awards ini mereka melibatkan beberapa tenaga hali tergantung awards apa yang ingin mereka buat. Dan dari sinilah sumber pemasukan mereka dapatkan karena mereka yang mendapatkan awards akan memberikan sesuatu yang bernilai uang, baik dalam bentuk pemasangan iklan maupun pemberitaan yang berbentuk iklan advertorial.

Cara ini mungkin bisa diterapkan pengelola Majalah Halida. Hanya saja harus disesuaikan dengan brand majalahnya. Sebenarnya Majalah Ummi sudah pernah melakukan komunikasi pemasaran melalui cara ini yaitu melalui pemilihan Umi Teladan.

Dan responnya sangat positif, hanya saja mungkin Umi belum memiliki tim pencari iklan yang heroik seperti para pencari iklan di Jawa Pos Group. Pengalaman saya saat menjadi jurnalis di Jawa Pos Group (Radar Banten) wartawan juga dianjurkan untuk mencari iklan.

Sebagai imbalannya para wartawan akan mendapatkan fee 20 persen dari nilai iklan yang didapatkan. Bagi wartawan senang karena mendapatkan pemasukan selain dari gaji. Apakah cara ini juga bisa diterapkan di Majalah Halida atau tidak, saya kurang paham.

Tapi menurut hemat saya jelas bisa apalagi konten Halida tidak begitu punya konflic interest seperti halnya media politik atau pemerintahan. Yang dibutuhkan mungkin pelatihan dan training bagi para wartawan atau bagian iklan agar lebih proaktif dan progresif.

Wallahu'alam
Penulis : Karnoto
*Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
*Mantan Jurnalis Warta Ekonomi Jakarta
*Studi Ilmu Komunikasi Pemasaran dan Periklanan di Univ.Mercu Buana Jakarta
*Founder Maharti Networking
*WhatsApp 0859 210 290 49


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.