Header Ads

Kota Halal, Upaya Re-Branding Kota Bogor



Tanpa City Branding maka sebuah kota atau daerah tidak akan memiliki arah pembangunan yang jelas, karena city branding adalah guide sebuah kota.


Dulu, Kota Bogor memiliki stigma kurang enak yaitu mendapat julukan Kota Hujan, artinya kota yang hanya bisa memberikan paket banjir ke Jakarta. Stigma ini cukup kental dan menasional sehingga sedikit banyak memengaruhi persepsi publik.

Bagi masyarakat Kota Bogor tentu ini kurang mengenakan sekaligus juga tantangan, khususnya kepala daerah selaku pemegang kebijakan. Tapi itu dulu! Sekarang Kota Bogor telah memiliki brand baru yaitu sebagai Kota Halal.

Upaya melakukan Re-Branding terhadap kota sudah dilakukan sejak tahun 2011. Di tahun itu, Pemerintah Kota Bogor melalui kepemimpinan Wali Kota Diani Budiarto telah mendeklarasikan Kota Hujan tersebut sebagai Kota Halal.

Dan sampai sekarang upaya melakukan Re-Branding tersebut masih konsisten dilakukan oleh Bima Arya, Wali Kota Bogor. Ia pun tengah bekerja keras melakukan strategi komunikasi pemasaran brand baru tersebut.

Deklarasi brand ini menurut saya cukup berani, apalagi ada label halal yang sensitif terhadap Agama. Jika teledor atau keliru sedikit saja maka brand tersebut akan cepat musnah, mengingat brand tersebut tidak hanya bersentuhan dengan konsep pembangunan kota, melainkan beririsan dengan Agama.

Untungnya, Pemkot Bogor sampai sekarang cukup sensitif untuk menjaga brand baru tersebut. Semua stakeholder dilibatkan, mulai dari ulama, pelaku bisnis, pemerintah dan investor. Belum lama ini Pemkot Bogor meresmikan Kampoeng Hijab, sebuah tempat khusus di pusat perbelanjaan yang menjual berbagai jenis busana Muslim.

Tak hanya itu, komunikasi pemasaran melalui event yang menyokong brand Kota Halal pun dilakukan, seperti Festival Halal Kota Bogor dan sejumlah event lainnya. Menancapkan brand memang ada konsekuensinya, brand apapun yang kita tancapakan memiliki konsekuensi.

Strategi Komunikasi Pemasaran
Sebagus apapun brand sebuah kota tidak akan memiliki efek yang maksimal ketika tidak mampu membuat dan melakukan strategi komunikasi pemasaran yang baik. Dalam teori komunikasi pemasaran, sebuah brand harus dikomunikasi dengan berbagai saluran.

Saluran komunikasi pemasaran tersebut bisa melalui public relation, event, direct selling, advertising dan media planning. Komunikasi pemasaran yang dilakukan pun harus satu suara, satu frekuensi dan satu nafas yaitu Kota Bogor, Kota Halal.

Dan semua stakeholder harus terlibat atau dilibatkan dengan brand tersebut sehingga memiliki suara yang sama, mulai dari Pemkot Bogor, masyarakat, RT, RW, lurah, camat, pelaku usaha dan para investor.

Sebab, tanpa adanya satu persepsi maka Re-Branding yang dilakukan tidak akan mengena karena tidak adanya satu suara. Selain itu, Pemkot Bogor juga mesti melakukan komunikasi pemasaran melalui advertising yang selaras dengan brand tersebut.

Advertising yang saya maksud meliputi, out door maupun indoor dan harus benar - benar satu suara yaitu Kota Bogor, Kota Halal. Sebab manajemen daerah sekarang ini tidak bisa menggunakan cara lama yang konvensional.

Seberapa lamapun seorang kepala daerah memimpin wilayah, tanpa melakukan City Branding maka tidak akan memberikan efek besar terhadap perubahan daerah tersebut. Selama ini banyak kepala daerah yang menggunakan cara konvensional yang lebih menonjolkan manajamen birokratif.

Sisi lain, seorang kepala daerah memiliki keterbatasan waktu memimpin, yaitu lima tahun. Banyak kepala daerah yang lebih menojolkan dirinya ketimbang daerahnya. Dari sisi politis memang menguntungkan, tetapi dari sisi persepsi keberhasilan jelas tidak efektif.

Padahal, jika seorang kepala daerah menojolkan daerah yang dipimpin dan bisa melakukan city branding maka akan diikuti oleh kepala daerahnya. Brand kepala daerah pada umumnya jauh lebih kuat ketimbang brand kota itu sendiri.

Kalau kita amati, kota - kota yang sukses melakukan city branding maka daerahnya akan lebih dikenal ketimbang kepala daerahnya. Pekalongan Kota Batik, Solo Kota Budaya, Jogja Kota Istimewa, Banyuwangi Sunrise of Java, itu adalah beberapa kota yang memiliki brand kuat.

Siapapun kepala daerahnya, brand kota tersebut tetap akan melekat dan dikenal oleh masyarakat luar dengan brand kota itu sendiri. Strategi City Branding bagi kepala daerah sudah menjadi knowladge yang wajib dimiliki.

Jika tidak mengerti maka saya menyarankan sering - seringlah berdiskusi dengan seseorang yang paham tentang branding. Memang tidak memiliki kebijakan karena bukan kepala daerah, tetapi dari diskusi dengan merekalah seorang kepala daerah bisa paham apa yang mesti dilakukan untuk membangun brand sebuah kota.

Wallahu'alam
Penulis : Karnoto
*Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
*Mantan Jurnalis Warta Ekonomi, Jakarta
*Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana, Jakarta
*Konsultan Brand di Maharti Brand
*Founder Maharti Networking
*WhatsApp 085921029049


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.